Tak Ada Siaran Tunda!
TIDAK ada penderitaan melebihi pahitnya dijajah diri sendiri. Terlebih bagi orang-orang yang tidak menyadari. Orang yang tidak menyadari kenyataan bahwa dosa, kesalahan, jalan hidup kotor, kemalasan, adalah penjajahan atas diri sendiri yang akan menyebabkan jiwa terasa kering dan gersang. Mungkin ia bisa menghibur diri dengan nyanyian bahagia, atau mimpi-mimpi duniawi yang megah. Tetapi sejatinya, itu tidak akan pernah sanggup menghapus kegalauan. (”Dosa dan Kesalahan itu Menjajah”, hal. 171)
***
“Buku ini bagus!” kata Ayah saya, di sela perjumpaan kami pada perayaan ‘Idul Fitri 1430 H kemarin.
Ayah adalah senior saya dalam dunia baca-membaca dan tulis-menulis. Saya akui sejujurnya tentang hal ini. Dulu, saat saya membongkar koper tua yang menyimpan berbagai dokumen tua (dan mungkin sebenarnya sebagian di antaranya adalah dokumen rahasia) yang tersimpan di almari tua di rumah nenek saya, saya temukan kliping karya-karya Ayah saya yang dimuat di beberapa media massa berupa reportase, opini, intermeso, cerpen, dan cerbung. Beliau pernah memenangkan lomba cipta cerpen remaja se-Sumbagsel. Meski saya pun pernah menemukan surat balasan dari redaksi Kompas yang mengembalikan kiriman artikel-artikel yang dikirimkan Ayah saya.
“Jika masa Ayah muda dulu seperti di zamanmu kini, mungkin Ayah sudah punya beberapa buku sendiri,” ujarnya jujur, mengakui satu-satunya kekalahannya dari saya adalah saya sudah punya empat buku antologi bersama, sementara beliau tak punya satu pun.
Jadi kesimpulannya, saya pun percaya buku ini bagus, seperti yang diutarakan Ayah saya di atas.
Selalu dan selamanya kita harusnya menyadari, bahwa ketakutan adalah sumber kehidupan itu sendiri. Sebab ketakutanlah yang membuat kita mencari perlindungan. Sebab ketakutanlah yang membuat kita mencari gantungan. Orang-orang yang takut selalu mencoba merajut sketsa pengharapannya, serumit apapun. Dan, tiada tempat bergantung dan menyerahkan diri kecuali kepada Allah Yang Maha Perkasa. Itu artinya, sepanjang hidup kita harus mengelola rasa takut itu dengan benar, sebagai sumber kehidupan itu sendiri. (”Ketakutan yang Menghidupkan”, hal. 136-137)
Karya mencerahkan ini terdiri dari 32 judul yang bertutur tentang bermacam fragmen dalam hidup. Memberi inspirasi segar. Di tengah persaingan hidup yang tak pernah mengenal siaran tunda, ada banyak kisah, renungan, dan pengalaman yang diulas dalam buku ini. Rangkaian tema yang layak dijadikan cermin.
Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau pasti akan mati. Berbuatlah sesukamu, sesunguhnya engkau pasti dibalas menurut perbuatanmu itu. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu karena shalat malamnya, dan kebesarannya ialah tidak butuhnya (zuhud) kepada sesama manusia. (”Ada Saatnya Perjalanan ini Terhenti”, hal. 43)
Dengan bahasan tematik, buku ini memberi Anda keleluasaan untuk menikmatinya secara berkala. Dan, Anda pun bebas untuk memulai atau mengakhiri membacanya, di mana saja.
Oya, hampir lupa, salah satu kekurangan buku ini adalah jumlah halamannya yang terlalu tipis alias kurang tebal! ^/^
Happy reading!
***
5 Oktober 2oo9 o4:55 p.m.
Data Buku
Judul buku : Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda
Penulis : Ahmad Zairofi AM
Penerbit : Tarbawi Press
Cetakan : Kedua, Januari 2007
Jumlah Halaman : vi+218 hal; 11,5 cm x 17,5 cm
Harga buku : Rp. 36.000,-
Dan Iblis pun Minta Pensiun Dini
KONON, Iblis (=nama salah satu jin yang diusir Allah dari surga) menghadap Allah dan menyerahkan surat berisi pengajuan pensiun dini. Lalu iblis mengatakan, “Wahai, Allah, hamba sudah tak sanggup lagi menggoda manusia.”
Allah kemudian bertanya, “Hai, Iblis! Kenapa kau lakukan ini? Apa alasanmu untuk pensiun dini?”
Iblis pun menjawab, setelah beberapa jenak mengatur nafasnya yang tidak karuan seperti hendak meledakkan kedongkolan akut semenjak jutaan tahun silam, “Hamba sudah tidak tahan lagi. Perasaan hamba sudah tidak karuan, fisik dan mental terkuras habis oleh ulah manusia-manusia zaman sekarang.”
Iblis terlihat mulai tenang sebelum melanjutkan keluhannya.
“Bagaimana hamba tidak habis pikir,” kali ini mimiknya serius, “Ada seorang jaksa yang harusnya menegakkan hukum, tetapi malah terlibat kasus suap miliaran rupiah. Ada menteri yang aji mumpung, menghabiskan uang rakyat dan berfoya-foya dengan duit hasil korupsi.
Ada pejabat yang membawa lari istri orang. Sebagian anggota DPR yang hobi plesir keluar negeri pakai uang rakyat dengan dalih studi banding. Oknum tokoh—sebagian mereka juga dikenal sebagai ustadz, yang semestinya jadi panutan, tetapi kok malah melakukan pelanggaran secara terang-terangan.
Ada pula seorang lelaki paruh baya tega membunuh ketiga anaknya yang berusia sepuluh, lima, dan tiga tahun sebab istrinya berselingkuh dan bercinta dengan lelaki lain. Pun juga ada sebuah kampung yang warganya memperjualbelikan anak-anak mereka seperti menjual dagangan di pasar ikan ….”
Iblis menggeretukkan geliginya, geleng-geleng kepala pertanda memendam muak luar biasa.
“Hamba khawatir, Paduka, khawatir justru hamba yang akan tergoda oleh ulah manusia ….”
***
3 Oktober 2oo9 o4:11 p.m.
Disadur dengan tambahan materi dari Iblis pun Minta Pensiun Dini, Suhendra, Oase Iman Eramuslim.Com, Kamis, 01/10/2009 05:13 WIB
Refleksi | Comment (0)
Six Days in Syawal
MEMBIASAKAN berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah sebagian dari tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan seseorang. Karena jika Allah Swt. menerima amalan hamba-Nya, maka Ia akan memberikan taufik pada amalan shalih selanjutnya.
“Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan kemudian dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukannya,” begitu pendapat sebagian ulama salaf.
Puasa sunnah enam hari di bulan Syawal mempunyai keutamaan yang sangat istimewa.
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (H.R. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshori)
Bagaimana cara melakukan puasa sunnah ini?
An-Nawawi mengatakan, “Para ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa paling utama melakukan puasa enam hari di bulan Syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fitri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal, maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” (Syarh Muslim)
Apabila seseorang menunaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal terlebih dahulu dan ia masih ada tanggungan puasa (memiliki qadha puasa Ramadhan), maka puasanya dianggap puasa sunnah mutlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal.
Allahu a’lam bish-shawaab.
***
8 Syawal 1430 H/27 September 2oo9 o8:o9 p.m.
Allah, beri kami hidayah untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Refleksi | Comment (0)Berburu Malam Qadar, Yuk!
SEPERTIGA terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (83,33 tahun).
“Malam Qadar (kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadar [97] : 3-5)
Ummu Mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata, “Rasulullah Saw. sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (H.R. Muslim)
Kapan malam Qadar itu terjadi?
“Carilah lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari)
“Carilah lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari)
Terjadinya malam Qadar (lailatul Qadar) di tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Carilah lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (H.R. Muslim)
Tanda-tanda malam Qadar
1. Udara dan angin sekitar terasa tenang.
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin. Pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (H.R. Ath-Thayalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqah/terpercaya)
2. Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
3. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.
Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Shubuh hari dari malam Qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (H.R. Muslim)
Semoga Allah Swt. menganugerahi kita dengan mendapatkan keutamaan malam Qadar pada Ramadhan kali ini. Amin.
***
7 September 2oo9 o7:49 a.m.
Referensi: Tuasikal, M. A., 2009, “Panduan Ramadhan, Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah”, Pustaka Muslim, Yogyakarta
Tips | Comment (0)Virus Flu Onta?
PERNAHKAH Anda mendengar istilah seperti judul di atas?
Bagaimana dengan istilah yang satu ini: H1N1 (baca: virus penyebab swine influenza alias flu babi)?
***
Adalah seorang tentara di Port Dix, Amerika Serikat, pada 5 Pebruari 1976, yang menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokan harinya. Dokter menyatakan, kematiannya disebabkan oleh virus Influensa A (H1N1).
Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejala H1N1 antara lain ditandai dengan demam, batuk, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, lemah lesu, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian.
Sebuah sumber mengatakan, Influensa A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita. Karena itu, penyebarannya sangat cepat. Namun demikian, angka kematiannya rendah, sekitar 0,4 persen.
Berdasarkan data terakhir, sejak pertama kali dilaporkan menimpa seorang bayi perempuan berumur enam bulan asal San Luis Potosi, Meksiko, pada 24 Pebruari 2009 lalu, virus H1N1 kini sudah menyebar hampir ke setiap negara di berbagai belahan dunia dengan korban jiwa lebih dari 700 orang meninggal dunia. Termasuk di negeri kita tercinta, Indonesia, yang sudah mencapai 444 kasus (29/7/2009).
Antara Onta dan Babi, Sebuah Fakta yang Tak Terbantahkan
Sejauh ini, onta (camelus) lebih banyak dikenal orang hanya sebagai spesies hewan gurun berkuku genap dan berpunuk satu (camelus dromedarius) atau berpunuk dua (camelus bactrianus) yang biasa ditemukan di Jazirah Arab, Asia Tengah, dan sebagian wilayah gurun di Afrika Utara sebagai sarana transportasi tradisional dan hewan pengangkut. Tidak banyak yang tahu, bahwa hewan yang mempunyai rata-rata harapan hidup berkisar antara 30 hingga 50 tahun ini merupakan salah satu penghasil susu dengan kualitas nutrisi yang lebih baik dari susu sapi (Wikipedia), selain tentu saja sumber daging yang halal dikonsumsi.
Bahkan kini sudah dapat dinikmati secara luas produk coklat yang terbuat dari susu onta. Sebuah terobosan yang dilakukan oleh perusahaan Al-Nassma milik Syaikh Muhammad bin Rasyid Al-Maktum yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, bekerja sama dengan Austria Chocolatier Manner, sudah mulai memasarkan produk coklat susu onta mereka ke pasaran dunia untuk pertama kalinya.
Perusahaan Al-Nassma telah menyiapkan 3000 onta yang dimiliki di sebuah peternakan di Dubai supaya mampu memproduksi sekitar 100 ton coklat susu onta premium setiap tahunnya. Semua coklat yang dihasilkan tanpa bahan-bahan kimia tambahan, tetapi dengan campuran rempah-rempah lokal yang terkenal seperti kacang-kacangan dan madu.
Susu onta dipercaya lebih sehat dan bergizi daripada susu sapi, mengandung lima kali lebih banyak vitamin C, sedikit lemak, sedikit gula, dan lebih banyak insulin; sehingga menjadikan coklat susu onta sebagai pilihan yang tepat bagi penderita diabetes dan orang yang harus mengkonsumsi gula sedikit.
Air seni onta juga terbukti secara ilmiah manjur untuk mengobati kanker. Setelah melewatkan waktu lebih dari lima tahun penelitian di laboratorium, Dr. Faten Abdel-Rahman Khorshid, ilmuwan Saudi staf pengajar di King Abdul Aziz University dan Presiden Tissues Culture Unit di Pusat Penelitian Medis King Fahd itu menemukan bahwa partikel nano dalam air seni hewan onta dapat melawan sel kanker dengan baik. Efektivitas air seni onta untuk melawan sel kanker sudah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh International Cancer Institute.
Penelitian itu menghasilkan mendali emas bagi tim peneliti atas inovasinya, yang diberikan oleh Kerajaan Saudi pada tahun 2008. Dan obatnya terpilih sebagai salah satu dari enam inovasi terbaik dari total 600 inovasi yang diajukan dalam International Innovation and Technology Exhibition (ITEX) 2009 yang diselenggarakan di Malaysia pada bulan Mei.
“Pengobatan ini bukan sebuah penemuan baru, melainkan diambil dari warisan peninggalan Nabi kita,” kata Dr. Khorshid mengacu pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Diceritakan oleh Abi Qilaba dari Anas r.a., “Ada sekelompok orang ‘Ukl atau ‘Urainah mendatangi Madinah, namun cuaca Madinah tidak cocok untuk mereka. Nabi Saw. menyuruh mereka untuk pergi ke kandang onta dan meminum susu dan air seninya. Lalu mereka melakukan sebagaimana yang diperintahkan dan mereka menjadi sehat.” (Hadis No.235, Kitabul Wudlu, Shahih Bukhari)
Dan lebih dari itu, satu hal yang pasti sampai detik ini saya belum pernah mendengar istilah virus flu onta, yaitu penyakit flu yang disebabkan oleh virus onta. Belum pernah sekalipun. Atau mungkin ada di antara Anda yang pernah mendengarnya sebelum ini?
Bagaimana dengan fakta seputar babi?
Babi atau celeng (dalam bahasa Jawa) adalah hewan bermancung panjang, berhidung leper, dan termasuk kelompok omnivora (memakan semua jenis makanan, baik daging maupun tumbuh-tumbuhan).
Dalam Al-Qur’an, sebagai hewan, babi hukumnya najis (najis mughaladhah, najis berat) jika disentuh dan haram untuk dimakan oleh umat Islam. Babi juga diharamkan untuk dikonsumsi dalam agama Yahudi dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di kalangan Kristen. Namun, babi banyak dikonsumsi orang Eropa dan Tionghoa. Beberapa suku bangsa di Indonesia selain suku Tionghoa-Indonesia juga suka mengkonsumsi babi, yaitu suku Bali, Batak, dan Manado (Wikipedia).
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (Q.S. Al-Maa-idah [5] : 3)
Fakta-fakta di lapangan tentang babi menjadi alasan empiris sekaligus ilmiah yang menguatkan penegasan Al-Qur’an akan keharamannya seperti yang diabadikan dalam beberapa ayatnya, salah satunya pada ayat di atas.
Ilmu kedokteran pun telah membuktikan bahwa babi adalah inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya. Sistem biokimia babi hanya mengeluarkan 2% dari seluruh uric acid (asam urat, C5H4N4O3) dari dalam tubuhnya. Bertolak belakang dengan sistem metabolisme dalam tubuh manusia yang mengeluarkan 98% kandungan asam uratnya melalui air seni. Asam urat adalah sampah dalam darah yang terbentuk akibat metabolisme tubuh yang tidak sempurna dan bersifat racun.
Dr. Murad Hoffman, seorang pengarah klinik laboratorium mikrobiologi di Boston Medical Center, Massachusetts, yang juga seorang asisten professor di Pathology and Laboratory Medicine, Boston University School of Medicine, menyatakan terdapat lebih dari 25 penyakit yang bisa dijangkiti dari babi, di antaranya anthrax, influensa, leptospirosis, rabies, dan salmonellosis.
Babi adalah binatang yang paling jorok, sangat suka berada di tempat yang kotor, suka memakan kotorannya sendiri, tidak tahan terhadap sinar matahari, pemalas, tidak gesit, dan paling rakus di antara hewan jinak lainnya. Babi juga suka dengan sejenis dan tidak pencemburu (A.V. Nalbandov dan N.V. Nalbandov, dalam buku Adaptive Physiology on Mammals and Birds).
Penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyimpulkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan colon (usus besar). Persentase penderita kedua penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi meningkat drastis, terutama di negara-negara Eropa, Amerika, Cina dan India. Sementara di negara-negara Islam persentasenya sangat rendah, hanya 1/1000 orang. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan di Sao Paulo, Brasil, 1986.
Adakah fakta lain tentang babi?
Islam mengajarkan pada umatnya tentang tata cara penyembelihan hewan yang halal dikonsumsi. Yaitu diawali dengan menyebut nama Allah Yang Mahakuasa dan kemudian membuat irisan memotong urat nadi leher hewan dan membiarkan urat-urat dan organ lainnya utuh. Cara ini akan mengakibatkan kematian hewan secara perlahan karena terputusnya sirkulasi darah dalam tubuh.
Bukan dengan cara mencederai organ vital hewan, seperti dengan cara menusuk bagian jantung, hati, atau dengan memukul bagian kepalanya. Sebab dengan mencederai organ-organ vital tersebut, hewan akan meninggal seketika dan darahnya akan mengumpul dalam urat-uratnya yang pada akhirnya mencemari daging. Daging hewan akan tercemar oleh asam urat sehingga mengandung racun.
Pada titik inilah, para ahli makanan baru menyadari betapa sempurnanya tuntunan ajaran Islam.
Tahukah Anda, bahwa babi tidak punya leher dan karenanya otomatis tidak bisa disembelih di bagian lehernya?
Tentu tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Allah Swt. mendesain fisik babi tidak berleher dan Rasulullah Muhammad Saw. mengajarkan pada umatnya untuk menyembelih hewan di lehernya. Mahabenar Allah yang telah mengharamkan babi bagi umat Muhammad Saw. dan menunjukkan bukti-bukti ilmiah kebenarannya dengan cara-Nya sendiri yang sangat elegan.
***
Menurut The Spoof, situs yang memarodikan berita-berita utama media internasional, seorang ilmuwan Paris berkata, “We should do like Moslem do. Not eat pigs. Then swine flu virus would disappear.” Kita harus seperti orang Islam. Tidak makan babi. Dengan begitu, flu babi akan lenyap (dengan sendirinya).
Demikianlah, kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 2)
Maka, adakah yang mau mengambil pelajaran darinya?
Allahu a’lam bish-shawaab.
***
31 Juli 2oo9 o4:1o p.m.
Dikutip dari berbagai sumber.
Artikel di atas dapat diakses di link ini.
Foto dicopas dari sini.
Refleksi | Comment (0)Hanya Sebatas Rencana
SATU.
Pernahkah Anda membaca lembar persembahan di sebuah Skripsi atau Tesis?
Karya kecil ini kupersembahkan untuk yang terkasih, tersayang, dan tercinta ….
Dia menuliskan nama ayah dan ibunya, nama kakak, adik-adiknya, juga nama keponakan semata wayangnya. Dan tak ketinggalan, kekasih hatiku X. X adalah nama lengkap kekasih hatinya (baca: pacarnya) saat itu.
Tetapi, tahukah Anda, dua setengah tahun kemudian sang penulis yang menulis di lembar persembahan itu menikah dengan siapa?
Tepat sekali, ia menikah dengan orang lain yang justru baru dikenalnya di tempat kerjanya. Begitulah takdir berbicara.
Dua.
Sabtu pagi itu, selepas shalat Shubuh, saya bergegas mandi. Lalu mengisi botol aqua dengan air dari galon. Memakai deker di kedua lutut. Memasukkan sepasang sepatu Diadora warna biru tua yang didesain khusus untuk futsal dan dua pasang kaos kaki warna putih ke dalam tas.
Sabtu pagi jam enam sampai jam delapan adalah jadwal rutin saya latihan futsal bersama teman-teman sehobi. Saya sangat menyukai olah raga yang satu ini selain sepakbola. Dan karenanya, Sabtu pagi adalah waktu yang selalu saya tunggu-tunggu kehadirannya dengan penuh antusias.
Pellé, tempat kami rutin ‘mencari keringat’ itu cukup jauh jaraknya dari pondokan saya. Jika ditempuh dengan sepeda motor sekitar 20 menit perjalanan, namun jika harus naik angkutan umum, satu jam belum tentu sampai ke Pellé. Selain tidak dilewati rute angkutan umum dan harus naik angkot dua kali sebelum ditempuh dengan jalan kaki, jam setengah enam pagi di Yogyakarta angkutan umum belum beroperasi.
Malam sebelumnya, seorang teman sudah berjanji akan menjemput saya ke pondokan. Tetapi, hingga tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi, ia belum juga tiba. Saya pun was-was. SMS yang saya kirim pending karena ponselnya ternyata tidak aktif. Beberapa teman yang lain, ponsel mereka aktif saat dihubungi tapi tak ada seorang pun yang mengangkatnya. Bah!
Maaf, tadi pagi ketiduran lagi setelah shalat Shubuh ….
Pesan pendek itu masuk ke ponsel saya di sore hari.Sejujurnya, saya masih dongkol pada si pengirim saat membaca SMS-nya itu. Karena pagi itu saya tidak jadi bermain futsal.
Ya, sepert itulah, guratan tangan-Nya tak jarang meleset jauh dari apa yang sudah kita rencanakan dengan matang dan seksama. Terkadang lebih sering melenceng dari jangkauan akal dan perkiraan logika sederhana kita. Ia hanya cukup mengatakan: kun fayakun! untuk mengunci berbagai kemungkinan kejadian menjadi nihil adanya. Hingga tak seorang pun kuasa untuk menolaknya.
Tiga.
Begitupun dengan kabar kedatangan salah satu tim sepakbola raksasa Eropa, Manchester United, ke Jakarta untuk sebuah pertandingan bertajuk Asian Tour 2009 Manchester United melawan tim Indonesia All-Star yang sudah digembor-gemborkan lewat berbagai iklan di media sejak tiga bulan silam. Senin malam ini, 20 Juli 2009, pukul 19.00 WIB kick-off kedua tim dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno dan akan disaksikan langsung oleh tak kurang 70.000 pasang mata pemilik tiket yang sudah tak sabar menantikannya.
Namun, realita yang diharapkan segera terwujud itu seketika pudar dan tinggal menyisakan puing-puing kekecewaan di dada para fans. Hanya berselang beberapa saat setelah bom bunuh diri meledak di Hotel Ritz Carlton pada Jum’at pagi, 17 Juli 2009, kesepakatan hitam di atas putih pun langsung dibatalkan sepihak oleh manajemen Manchester United lewat situs resmi mereka karena alasan keamanan. Tentu bukan sebuah kebetulan belaka jika sasaran bom bunuh diri adalah Hotel Ritz Carlton, tempat dimana tim dan official Manchester United akan menginap selama tinggal beberapa hari di Jakarta. Yakinlah, Tangan Tuhan pun terlibat di sana.
Maka, seperti kata pepatah: man proposes, but God disposes, manusia merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Setiap orang berhak memiliki perencanaan hidup, akan tetapi harus tetap disertai kesadaran penuh bahwa semua perencanaan itu baru sebatas wacana. Dan hanya Dia di atas sana yang berhak memutuskan terlaksana atau tidaknya setiap rencana-rencana itu pada akhirnya.
***
2o Juli 2oo9 o4:o8 p.m.
Tekad yang Diproklamirkannya Malam Itu
AWAL Juli hingga akhir Agustus 2007. Selama dua bulan penuh saya menjadi relawan Program Pemberantasan Buta Aksara yang diprakarsai oleh Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional.
Meski awalnya terlintas keengganan menggelayut di benak ini, tetapi kemudian saya berusaha untuk menikmatinya dengan sepenuh hati. Mencoba memaknai setiap momentum yang terjadi selama menjadi relawan itu.
Saya ditempatkan di Dusun Wedusan Lor, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Salah satu dari lima dusun di kawasan Desa Santri Balunganyar, 22 kilometer dari pusat kota Pasuruan. Sekitar 2 jam perjalanan ke arah timur dari Surabaya.
Warga Dusun Wedusan Lor 90% berprofesi sebagai peternak sapi perah, salah satu kawasan penghasil susu terbanyak di Kabupaten Pasuruan. Sisanya bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang, karyawan pabrik, buruh bangunan, dan ada juga yang bekerja serabutan menyediakan jerami untuk pakan sapi. Hampir 100% adalah warga keturunan Madura sehingga bahasa keseharian mereka adalah bahasa Madura, bukan bahasa Jawa.
Salah satu permasalahan terbesar yang ada di Dusun Wedusan Lor dan Desa Balung Anyar pada umumnya adalah, fakta bahwa lebih dari 85% penduduknya masih belum melek aksara. Belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Sebuah ironi yang sungguh menyedihkan mengingat mushala nyaris ada di setiap RT dan keberadaan Masjid Agung Baiturrahim yang berdiri megah di samping kantor Desa Balunganyar.
“Pak, sejak kecil saya belum pernah sekolah,” ungkapnya polos. Saat kami berjalan beriringan meninggalkan tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung di sebuah mushala, sekitar jam setengah sepuluh malam.
Ia biasa menyapa saya dengan sebutan “Pak” meskipun sudah saya ingatkan beberapa kali agar memanggil dengan nama panggilan saja. Mungkin karena dalam benaknya, seorang laki-laki seusia saya (25 tahun saat itu) paling tidak seharusnya sudah punya satu atau dua orang anak balita. Ya, bagi para pemuda di sana, asal sudah bisa ngarit—mengambil rumput untuk pakan sapi, berarti urusan mendesak berikutnya adalah mencari seorang istri dan menjadi suami.
Melanjutkan studi hingga ke jenjang sekolah menengah apalagi kuliah di perguruan tinggi bukanlah prioritas utama. Atau bahkan sama sekali tak pernah terlintas di pikiran mereka. Sebagian orang tua yang masih menganggap penting arti pendidikan lebih memilih memasukkan anak-anak mereka ke pesantren-pesantren tradisional daripada sekolah umum sejak dari kecil hingga tiba saatnya menikah nanti.
Begitulah pola pikir kolot generasi awal warga Dusun Wedusan Lor pada umumnya. Hingga di masa lalu, bagi seorang warga yang “nekad” melanjutkan pendidikan menengah ke sekolah umum di kota, harus siap-siap ditertawakan dan menjadi objek ejekan orang sedesa.
Dan Mas Slamet, lahir tahun 1975, termasuk salah seorang korban pola pikir warga yang salah kaprah itu. Beliau memang benar-benar tidak pernah mengecap bangku sekolah. Tidak seperti sebagian besar peserta didik lainnya yang rata-rata pernah mengecap bangku SD meski drop-out di tengah jalan.
Satu hal yang saya kagumi dari pribadi sederhana dan murah senyum ini adalah semangat belajarnya yang ternyata sungguh menggebu. Beliaulah peserta didik saya yang paling rajin hadir di kelas. Hingga keuletannya itu mengantarkannya lulus Ujian Nasional di akhir proses KBM dengan memperoleh skor 515 dari skor total 555.
Alhamdulillah, Ayah satu putra yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan itu kini sudah melek aksara. Beliau sudah bisa membaca meski masih dengan terbata-bata. Beliau sudah bisa menulis walau kadang belum sesuai dengan kaidah tata bahasa yang seharusnya. Dan beliau juga sudah lebih paham operasi sederhana angka-angka.
“Semoga anak-anak saya kelak bisa sekolah, Pak. Tidak seperti bapaknya!” begitu tekad yang diproklamirkannya pada saya malam itu.
***
16 Juli 2oo9 o1:31 p.m.
Memaknai Waktu Luang
SAYA masih duduk bertafakur di dalam masjid setelah menunaikan shalat Isya malam itu. Ketika tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas tanpa permisi di benak ini.
Apa yang menghalangimu untuk menunaikan dua rakaat shalat ba’diyah Isya?
Hening. Masjid sudah sepi dari para jamaah, menyisakan saya dan dua orang jamaah lain di belakang saya yang juga masbuk. Suara putaran tiga kipas angin yang terpasang di dinding dan langit-langit masjid mengisi sepi yang mulai merayap pasti.
Belum sempat syaraf di otak saya memproses sebuah jawaban, pertanyaan berikutnya sudah mencuat.
Bukankah kau ingin diakui sebagai umat Rasulullah Saw. kelak di hari Kiamat?
Ibnu ‘Umar r.a. berkata, “Aku hafal 10 rakaat (shalat sunah) Nabi Saw., yaitu 2 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib di rumahnya, 2 rakaat setelah Isya di rumahnya, dan 2 rakaat sebelum Shubuh.” (H.R. Bukhari)
Betul sekali.
Bahkan saya sangat sangat ingin diakui sebagai bagian dari umat Rasulullah Saw. kelak pada hari dimana manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Pada hari ketika ruh dan malaikat berdiri bershaf-shaf, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan hari di saat orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah saja.”
Adakah alasan untuk mengabaikannya?
Saya teringat ketika lebih tujuh tahun ke belakang masih sering mudik ke kampung halaman di Sumatera dengan menggunakan bis AKAP yang memakan waktu di jalan hampir 40 jam. Bunda hampir tak pernah lupa mengingatkan saya untuk tidak usah berlama-lama ketika menunaikan shalat selama di perjalanan karena berbagai alasan yang dikhawatirkannya.
Saya bisa memakluminya, karena shalat wajib pun dianjurkan untuk diqashar dan sekaligus dijamak selama di perjalanan.
Sedangkan sekarang ini, saya tidak sedang menempuh perjalanan jauh dan tak ada urusan mendesak untuk dikerjakan. Tidak dalam kondisi gawat darurat karena perang sedang berkecamuk, atau dingin yang sangat, dan sehat wal afiat pula.
Tapi kan hukumnya sunah, bukan wajib, sisi hati saya yang lain menyumbangkan argumennya.
Lantas kapan kau akan mulai mengerjakannya? Semoga kau masih punya kesempatan sebelum nafasmu sampai di kerongkongan!
Buk! Seperti bogem mentah yang menyodok telak keengganan-keengganan saya selama ini. Dan saya pun menyerah.
Ya Allah, bantu aku untuk meneladani jejak-jejak Rasul-Mu di sisa usiaku. Amin.
***
Jika setiap diri meyadari betapa berharganya waktu luang, tentu tidak akan pernah terjadi seorang pelajar atau mahasiswa menerapkan cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat masa ujian tiba. Tidak akan terjadi kelak di hari Pembalasan sebagian manusia berteriak minta dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal kebaikan.
Mahasuci Allah yang telah menurunkan surat Al-‘Ashr dan Rasulullah Saw. yang telah mengingatkan kita tentang lima perkara sebelum datang lima perkara yang sebaliknya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang dikarunia kepekaan untuk mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan ini.
Allahu a’lam bish-shawaab.
***
29 Juni 2oo9 1o:o8 p.m.
Refleksi | Comment (0)
Saya Belajar dari Ayah
GENAP lima belas hari yang lalu, ayah saya menyempatkan mampir ke Yogyakarta sebelum bertolak ke Batu, Malang, untuk keperluan dinas dari kantornya. Beliau sampai dengan taksi selepas ‘Ashar, setelah sehari sebelumnya menjenguk kedua orang tuanya, nenek kakek saya, di Cilacap. Sekarang Ayah masih bertugas di sebuah instansi plat merah di kota kelahiran saya di tanah Andalas.
Sabtu malam itu, sepulang dari TB Togamas, Ayah mengajak saya makan malam di warung makan tenda tak jauh dari tempat saya tinggal. Kami memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas jeruk hangat.
Sambil menunggu pesanan tersaji, saya membaca-baca sekilas sebuah buku non-fiksi baru yang dibeli dari TB Togamas. Tak lama berselang, nasi goreng pesanan kami tiba. Saya letakkan buku baru itu di atas meja tepat di depan saya. Dan akan mulai mencicipi nasi goreng bagian saya.
Warna dan ilustrasi cover buku itu ternyata menarik perhatian seorang mahasiswa yang duduk tepat bersebrangan dengan meja saya. Tanpa sungkan, ia minta izin meminjamnya sebentar. Ia membuka lembar demi lembar buku itu penuh minat. Hingga kemudian terciptalah dialog di antara kami, saya dan dia, seputar isi buku, memecah kebekuan yang gagu. Belakangan ayah saya juga ikut nimbrung.
Mahasiswa supel itu lahir di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah dimana terdapat Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) di dalamnya. Dan, kebetulan ayah saya menghabiskan sekolah menengahnya di kota itu, pertengahan dekade tahun 1970-an, hingga masih hafal betul seluk beluk tata kotanya meski sudah jauh berkembang saat ini. Saya yang tidak begitu akrab dengan Purwokerto cukup menjadi pendengar yang baik saja. Hanya sesekali menimpali obrolan hangat mereka.
Dan, tibalah satu lagi episode yang saya kagumi dari pribadi ayah saya. Saat mahasiswa itu pamitan untuk pulang lebih dulu dan hendak membayar uang makannya, dengan sigap ayah saya bilang, “Biar saya yang bayar.”
Mahasiswa itu tampak sungkan dan berusaha mati-matian untuk membayarnya sendiri. Tapi, tak kalah antusias, ayah saya meyakinkannya dan si pemilik kedai tenda untuk menolak uang yang disodorkan kepadanya oleh si mahasiswa tadi.
Saya tersenyum diam-diam menyaksikan adegan itu. Dan itu bukan kali pertama saya melihatnya saat-saat bersama Ayah.
Ayah suka berbagi dengan orang lain, bahkan pada mereka yang baru beberapa menit dikenalnya. Jiwa philanthropist-nya cukup potensial untuk diwariskan pada kami, empat orang anak-anaknya.
Saya pun masih ingat, ketika terjadi invasi brutal Israel ke Jalur Gaza di penghujung Desember 2008 silam. Saat itu saya mengirim sebuah SMS berisi sebuah nomer rekening lembaga penyalur dana kemanusiaan ke Gaza.
Beberapa hari kemudian, Ayah membalas SMS itu, “Pagi ini sudah ditransfer sejumlah uang ke rekening itu. Semoga berkah.”
Begitulah, ayah saya telah mengajarkan sesuatu yang berharga lewat perbuatan nyata tanpa banyak berkata-kata.
***
28 Juni 2oo9 o2:21 a.m.
Seni seviyorum, Dad!
Silahkan mampir ke multiply site di link ini.
Refleksi | Comment (0)
Haruskah Kita Menulis Memoar?
Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)
***
What is ‘memoar’?
MEMOAR adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi (riwayat hidup pribadi yang ditulis sendiri) yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya; catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang. (KBBI Online, Pusat Bahasa Depdiknas, 2008)
Memoar bersifat non imajinatif. Sebuah tulisan yang tidak berpretensi menyodorkan kebenaran universal. Dia hanya menunjukkan tafsir satu sisi dari si pememoar, menunjukkan bagaimana dunia dipandang dari sudut yang begitu personal. Sebuah memoar lebih bersifat memberi motivasi ketimbang instruksi. Kitalah, para pembaca, yang selanjutnya ketiban sampur mencari-cari instruksi alias hikmah atau sari tilawah dari kisah-kisah hidup itu.
Beberapa contoh memoar
Cahaya di Kalbuku (Pipiet Senja), 168 Jam dalam Sandera (Meutya Hafid), Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku (Gola Gong), The Other Side of Me (Sidney Sheldon), Jakarta Underkompor: Sebuah Memoar Garing (Arham Kendari), Memoar Hasan Al-Banna untuk Dakwah dan Para Da’inya (Hasan Al-Banna), dan Memoar Pulau Buru (Hersri Setiawan).
Mengapa menulis memoar?
Pipiet Senja, seorang penulis senior yang telah menulis puluhan buku baik karya fiksi maupun nonfiksi, mengungkapkan beberapa alasan mengapa ia menuliskan memoarnya berikut ini.
Berbagi pengalaman dengan cara sederhana, bertutur kata yang bersahaja.
Orisinalitas sangat terpelihara. Karena tak semua orang memiliki lakon yang sama, pemikiran dan solusi yang serupa.
Ada sesuatu yang ingin disampaikan dan hanya bisa melalui jenis tulisan semacam memoar atau catatan harian ini, tidak bisa disampaikan melalui fiksi seperti novel.
Bisa lebih jujur dalam menyampaikan perasaan, pemikiran atau visi dan misi perikehidupan kita.
Dan, kalau boleh saya tambahkan, bahwa setiap aktivitas kita sebagai seorang Muslim harus bernilai ibadah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyaat [51] ayat 56.
Maka, memoar yang kita tulis pun tidak boleh memuat hal-hal yang bertentangan dengan syariat, seperti mengandung unsur syirik, fitnah, hal-hal porno dan sejenisnya. Tetapi berisi sesuatu yang bermanfaat dan mengajak pembaca untuk lebih memaknai setiap episode hidup dan mensyukurinya.
Emang ada memoar yang mengandung unsur syirik atau hal-hal porno? Mungkin saja. Memoar Dukun, sebuah memoar yang ditulis oleh seorang dukun, misalnya. Atau trilogi Jakarta Undercover-nya Moammar Emka.
Belajar dari memoar karya peraih Nobel
Istanbul, Memories and the City adalah memoar karya Orhan Pamuk, seorang penulis Turki yang meraih hadiah Nobel bidang Sastra, 2oo6.
Berbeda dengan memoar-memoar lain yang lebih mengutamakan kisah hidup si penulis, dalam memoarnya ini Pamuk tak hanya berkisah mengenai sejarah hidupnya. Dengan cara bertutur seperti dalam novel-novelnya, Pamuk mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya (antara 1950-1970-an) dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, kota kelahirannya yang begitu ia cintai.
Hasilnya semacam esai berisi sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Istanbul, baik dari apa yang diperolehnya dari pengalaman maupun risetnya sendiri.
Setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempat saya dilahirkan itu lebih miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi saya, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. Saya menghabiskan hidup memerangi kemurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya kemurungan saya. (hal. 7)
Kemurungan Istanbullah yang menjadi benang merah seluruh kisah dalam memoar ini. Karena itu, jangan harap kita disuguhi panorama keindahan Istanbul. Dalam memoarnya ini, wajah Istanbul modern yang kini karut-marut dikisahkan secara pararel dengan kehidupan masa lalu Pamuk yang dilahirkan dari keluarga kelas menengah dan hidup dalam budaya sekuler Barat.
Bisa disimpulkan, bahwa buku ini merupakan serpihan memoar dan esai panjang Pamuk tentang dirinya dan Istanbul.
Yuk, MENULIS JADI memoar kita!
Apa maksudnya MENULIS JADI?
Meskipun hanya sebuah catatan harian sederhana, harus memenuhi standar kepenulisan yang layak publish. Standar kepenulisan yang saya maksud meliputi tata bahasa, logika cerita dan rasa bahasanya itu sendiri. Sehingga hasilnya adalah sebuah penggalan kisah utuh dari setiap episode hidup kita yang tidak hanya layak posting di blog pribadi, tetapi juga layak muat di sebuah portal online, di media cetak, atau mungkin untuk dibukukan suatu hari nanti.
Saya sering berkunjung ke blog seorang teman. Beberapa waktu lalu ia bekerja sebagai research-assistant di bidang biologi sebelum hijrah ke Negeri Ginseng mendampingi suaminya yang melanjutkan studi di sana. Memoar-memoarnya tentang aktivitas riset dan kesehariannya di lab enak dibaca karena ia menguasai bidang yang digelutinya itu.
Namun, satu hal yang (sangaaaat) saya sayangkan: ia tidak menulisnya sesuai standar MENULIS JADI seperti yang saya utarakan tadi. Padahal, mungkin, kalau ia memolesnya dengan tata bahasa yang baik dan benar, layak untuk nampang di portal online khusus bidang science.
Jadi, jangan sekadar curhat doang deh. Mari budayakan MENULIS JADI memoar kita! Sesederhana apapun itu.
Allahu a’lam bish-shawab.
***
Ditulis dengan tergesa untuk didiskusikan pada Forum Non Fiksi
FLP Yogyakarta, Selasa, 9 Juni 2oo9 09:54 a.m.
Diskusi yang lebih rame ada di sini ^_^
Bahan bacaan:
Mengapa Menulis Memoar?, diakses dari http://www.penulislepas.com/v2/?p=929
Istanbul, Kenangan Sebuah Kota, sebuah review diakses dari http://htanzil.multiply.com/reviews/item/42
Tips | Comment (0)








